Sat. May 28th, 2022

JAKARTA, KOMPAS. com – Mantan Menteri Kelautan serta Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku penuh menelan kekecewaan saat dia menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan antara 2014 hingga 2019.

Susi yang membatalkan berhenti sekolah karena sistemnya sungguh-sungguh mengatur justru bertemu dengan rentetan orang-orang politik yang sukanya mengatur.

Tak ayal saat kebijakan kontroversialnya lahir, banyak pihak yang tidak akur dan menjatuhkannya.

Baca juga:   Organda Minta Pemerintah Prioritaskan Vaksin untuk Pilot Angkutan Umum

“Waktu saya jadi menteri saya banyak kecewa, karena sistemnya bentur-bentur tembok banyak. Ketika saya mau menukar sesuatu, tidak bisa karena bertentangan (dengan ketentuan). Somebody has owning , ” sekapur Susi saat berbincang bersama Majikan Redaksi Kompas. com , Wisnu Nugroho, Senin (18/1/2021).

[embedded content]
Kendati demikian, Susi tetap mencoba dengan terbaik untuk menjalankan visi urusan Presiden Jokowi kala itu, bahar sebagai masa depan bangsa dan Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Keinginannya mengubah sektor bahari menjadi bertambah baik tak lain juga didorong oleh anggapan Susi yang merasakan tidak akan memiliki kesempatan kedua menjadi menteri bila tidak diubah sekarang.

“Pada kesudahannya, saya mencoba yang terbaik, menyampaikan pendapat saya ke publik. Kala saya menjadi menteri, saya sadar tidak ada kesempatan kedua. Kami akan mencoba hingga limit belakang karena menyerap terlalu mudah tidak gaya saya, ” ungkap Susi.

Baca selalu:   Terjerat Kasus Suap, Pewaris Samsung Dihukum 2, 5 Tarikh Penjara

Oleh karena itu, tak ganjil orang kerap menyebut Susi tulang kepala. Dia lantas bercerita, temperamen tidak mudah menyerahnya didapat lantaran didikan orangtua sejak kecil.

Meski orangtua sempat marah ketika Susi menetapkan berhenti sekolah, pada akhirnya justru bangga dengan sifat independensinya.

“Saya budi mereka akhirnya bangga. Saya menolong finansialnya. I pay them everything, not them anymore , ” pungkasnya.