Fri. May 27th, 2022

JAKARTA, PETUNJUK. com – Pemimpin Joko Widodo hingga kini belum mengambil keputusan untuk menunjuk pemangku dua pembantunya yang telah ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Keduanya yaitu Gajah Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo serta Menteri Sosial Juliari Batubara. Edhy ditangkap Komisi Antirasuah di 25 November lalu terkait kejadian dugaan korupsi benih lobster.  

Sementara Juliari, menganjurkan diri kepada Komisi Antikorupsi pada Minggu (6/12/2020) dini hari, setelah sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka di dalam kasus dugaan korupsi pengadaan bantuan sosial terkait penanganan Covid-19 dalam wilayah Jabodetabek tahun 2020.

Alih-alih segera menunjuk pengganti, Jokowi justru hanya memberikan pernyataan normatif kepada terbuka saat menanggapi kedua anak buahnya yang tersangkut kasus rasuah.

Baca juga: Pengamat: Jokowi Akan Sulit Ambil Keputusan Strategis jika Posisi Menteri Dibiarkan Kosong

Laksana pada saat menanggapi penangkapan Edhy. Tanpa menyebut nama pejabat dengan ditangkap, mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyatakan bahwa pemerintah meluhurkan proses hukum yang tengah berjalann di KPK.

“Saya percaya KPK bekerja transparan, terkuak, dan profesional, ” kata Jokowi seperti dilansir dari Kompas. id .

Demikian halnya saat Juliari ditangkap. Ia membuktikan bahwa seharusnya pejabat negara menciptakan sistem yang dapat menutup belahan korupsi.

”Itu kekayaan rakyat, apalagi ini terkait bansos penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional yang sangat dibutuhkan rakyat, ” kata Jokowi.

Gamang

Ada yang berpendapat, sejatinya Kepala Jokowi diuntungkan secara politik secara penangkapan dua menterinya itu. Sebaliknya, ada pula yang menduga, Pemimpin Jokowi justru dirugikan sehingga Kepala hati-hati dan bijak menyikapi penahanan dua pembantunya dari partai.

Baca juga: Dua Menteri Terjerat Korupsi, Sekjen PPP Minta Jokowi Segera Tunjuk Substitusi