Sat. May 28th, 2022

 

JAKARTA, KOMPAS. com – Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai, Presiden Joko Widodo tengah menunggu paksa yang pas untuk mengumumkan perut pengganti menterinya yang terjerat kejadian dugaan korupsi.

Keduanya yaitu Menteri Sosial Juliari P Batubara yang menjadi tersangka pada kasus dugaan korupsi pengadaan sandaran sosial (bansos) untuk penanganan Covid-19 di wilayah Jabodetabek 2020.  

Serta, Menteri Bahari dan Perikanan Edhy Prabowo dengan terjerat kasus dugaan penerimaan uang lelah atau janji terkait perizinan tembok, usaha, atau pengelolaan perikanan ataupun komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020.

“Pak Jokowi kelihatannya memang menduduki momentum. Sehingga pada saat reshuffle dilakukan semua sudah ready dan siap lari. Tidak perlu ada reshuffle teristimewa hingga akhir masa jabatannya, ” kata Hendri saat dihubungi Kompas. com , Senin (14/12/2020).

Baca juga: Soal Kemungkinan Reshuffle Kabinet Usai Pilkada, Ini Kata Pekerja Kepala

Ia memprediksi bahwa saat ini Jokowi tengah menimbang betul-betul kementerian mana saja yang harus dirombak.

Di sisi lain, Hendri melihat Jokowi juga telah mengakhiri persetujuan dari partai-partai politik yang akan mengisi kekosongan jabatan pada dua menteri tersebut.

Seperti diketahui, dua menteri dengan jadi tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) itu merupakan politikus Partai Gerindra dan PDI Perjuangan.

“Jokowi sudah jauh-jauh hari sejumlah dirinya tanpa beban. Jadi kelihatannya, dia tunggu momentum untuk berlari, ” ujarnya.

Hendri memprediksi, Jokowi menginginkan adanya mesin baru di dalam struktur tadbir.

Tidak hanya kementerian, kata dia, Jokowi juga diprediksi mencari sosok baru dalam struktur kelembagaan.

Menangkap juga: 2 Menteri Tersangka Manipulasi, Presiden Diminta Segera Reshuffle Kabinet

“Mungkin Jokowi ingin semua engine baru. Termasuk Kapolri yang memang akan memasuki kala pensiun, ” terang dia.

Lebih lanjut, Hendri ada bahwa alasan Jokowi urung merombak kabinetnya karena tengah fokus di dalam pengadaan vaksin Covid-19.

“Tampaknya Jokowi juga menunggu informasi baik ketersediaan vaksin Covid-19 dengan siap digunakan, ” imbuh tempat.