Sat. May 28th, 2022

JAKARTA, KOMPAS. com  kepala Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan dua tersangka peristiwa dugaan suap terkait izin ekspor benih lobster yang melibatkan Gajah Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Dua tersangka tersebut yakni staf khusus Edhy, Andreau Pribadi Misata, dan seorang bagian swasta bernama Amiril Mukminin.

“Hari ini (15/12/2020) dikerjakan perpanjangan penahanan terhadap dua orang tersangka yaitu APM (Andreau) & AM (Amiril) masing-masing selama 40 hari, dimulai tanggal 16 Desember 2020 sampai dengan 24 Januari 2021, ” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Selasa (15/12/2020).  

Baca juga: Kontrol Empat Saksi, KPK Dalami Cucuran Dana Kasus Edhy Prabowo

Andreau dan Amiril telah ditahan di Rutan Cabang KPK di Gedung Merah Putih KPK sejak Kamis (26/11/2020) awut-awutan setelah menyerahkan diri ke KPK karena tak ikut terjaring di operasi tangkap tangan, sehari sebelumnya.

“Perpanjangan penahanan dikerjakan karena penyidik saat ini sedang dalam proses melengkapi berkas kejadian para tersangka tersebut, ” ujar Ali.

Sebelumnya, KPK telah memperpanjang masa penahanan lima tersangka lain dalam kasus ini untum 40 hari ke depan sampai dengan 23 Januari 2021.

Lima tersangka tersebut ialah Menteri Kelautan dan Perikanan  Edhy Prabowo; staf khusus Edhy, Safri; pengurus PT Aero Cermin Kargo, Siswadi; staf istri Edhy, Ainul Faqih; dan Direktur PT Dua Putra Perkasa, Suharjito.  

Baca juga: Kasus Edhy Prabowo, KPK Dalami Pengajuan Permisi Ekspor Benih Lobster oleh PT ACK

Dalam kasus ini, Edhy diduga menyambut uang hasil suap terkait izin ekspor benih lobster senilai Rp 3, 4 miliar melalui PT Aero Citra Kargo (PT ACK) dan 100. 000 dollar GANDAR dari Direktur PT Dua Anak Perkasa (PT DPP) Suharjito.

PT ACK diduga menerima uang dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster karena ekspor hanya dapat dilakukan melalui perusahaan tersebut dengan biaya angkut Rp satu. 800 per ekor.

Uang tersebut salah satunya sebab PT DPP yang mentransfer uang Rp 731. 573. 564 biar memperoleh penetapan kegiatan ekspor baka lobster.

Wakil Ketua KPK  Nawawi Pomolango  mengatakan, berdasarkan data, PT ACK dimiliki oleh Amri dan Ahmad Bahtiar yang diduga merupakan nominee dari pihak Edhy Prabowo dan Yudi Surya Atmaja.

“Uang yang menyelundup ke rekening PT ACK yang diduga berasal dari beberapa kongsi eksportir benih lobster tersebut, selanjutnya ditarik dan masuk ke bon AMR (Amri) dan ABT (Ahmad Bahtiar) masing-masing dengan total Rp 9, 8 miliar, ” cakap Nawawi, Rabu (25/11/2020).