Fri. May 27th, 2022

JAKARTA, KOMPAS. com  – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami dugaan pengumpulan uang untuk diberikan kepada mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Hal tersebut didalami penyidik saat memeriksa Penasihat PT Dua Putra Perkasa Suharjito selaku tersangka kasus dugaan uang sogok terkait izin ekspor benih lobster, Jumat (8/1/2021).

“Penyidik masih mendalami terkait dengan sangkaan persiapan dan pengumpulan sejumlah uang yang akan diberikan kepada simpulan EP (Edhy) melalui timnya, ” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Sabtu (9/1/2021).

Menyuarakan juga: Kasus Suap Ekspor Baka Lobster, KPK Dalami Pemberian Kekayaan kepada Edhy Prabowo

Selain Suharjito, penyidik selalu memeriksa seorang tenaga kontrak bernama Mohamad Tabroni sebagai saksi.

Dalam pemeriksaan Tabroni, pemeriksa mendalami penitipan kartu ATM bon milik staf istri Edhy, Ainul Faqih.

Rekening tersebut diduga ialah rekening penampungan berisi uang suap dari sejumlah perusahaan eksportir benih lobster.

“(Tabroni) dikonfirmasi mengenai dugaan penitipan kartu ATM milik tersangka AF (Ainul) pada saksi yang untuk selanjutkan di berikan kepada tersangka EP, ” kata Ali.

Baca juga: Saksi Kasus Edhy Prabowo Meninggal Dunia, Ini dengan Sempat Didalami KPK

Kartu ATM tersebut kemudian digunakan Edhy untuk berbelanja bervariasi barang mewah saat melakukan lawatan dinas di Amerika Serikat.

Dalam kasus ini, Edhy diduga menerima uang hasil suap terkait izin ekspor benih lobster senilai Rp 3, 4 miliar melalui PT ACK dan 100. 000 dollar AS dari Eksekutif PT Dua Putra Perkasa (PT DPP) Suharjito.

PT ACK diduga menerima uang lantaran beberapa perusahaan eksportir benih lobster karena ekspor hanya dapat dilakukan melalui perusahaan tersebut dengan ongkos angkut Rp 1. 800 bohlam ekor.