Sat. May 28th, 2022

JAKARTA, KOMPAS. com – Pemeriksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami dugaan pemberian uang kepada mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dalam kasus suap terkait izin ekspor benih lobster.

Dugaan pemberian uang tersebut didalami penyidik saat memeriksa Suharjito, pemilik PT Dua Putra Jantan yang merupakan tersangka pemberi uang sogok kepada Edhy, Kamis (7/1/2021).

“Mengenai dugaan adanya pemberian uang oleh tersangka SJT (Suharjito) kepada EP (Edhy) melalui pekerja pribadinya SAF (Safri) terkait pengurusan perizinan dan pengiriman benih lobster di KKP, ” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Jumat (8/1/2021).

Baca juga: Kontrol Dua Saksi, KPK Dalami Pengondisian Fee ke Edhy Prabowo

Ali mengatakan, pemeriksa juga mendalami aktivitas PT Dua Putra Perkasa terkait perizinan ekspor benih lobster di Kementerian Bahari dan Perikanan.

Ali menyebut ada dugaan Suharjito bersemuka Edhy untuk membahas pengajuan kerelaan ekspor oleh PT Dua Anak Perkasa.

“Didalami selalu dugaan adanya pertemuan tersangka SJT dengan EP selaku menteri KKP yang membicarakan masalah pengajuan ijin ekskpor oleh PT DPP, ” ujar Ali.

Baca juga: Periksa Edhy Prabowo, KPK Dalami Aliran Uang daripada Eksportir Benih Lobster

Dalam kasus ini, Edhy diduga menerima uang hasil suap terkait izin ekspor benih lobster senilai Rp 3, 4 miliar melalui PT ACK dan 100. 000 dollar AS dari Penasihat PT Dua Putra Perkasa (PT DPP) Suharjito.

PT ACK diduga menerima uang dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster karena ekspor hanya dapat dilakukan melalui kongsi tersebut dengan biaya angkut Rp 1. 800 per ekor.

Uang tersebut salah satunya dari PT DPP yang memindahkan uang Rp 731. 573. 564 agar memperoleh penetapan kegiatan ekspor benih lobster.

Baca juga: KPK Dalami Setoran Rp 1. 800 Per Akhir Benih Benur Lobster ke Edhy Prabowo

Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango mengatakan, PT ACK dimiliki oleh Amri dan Ahmad Bahtiar yang diduga merupakan nominee daripada pihak Edhy Prabowo dan Yudi Surya Atmaja.

“Uang yang masuk ke rekening PT ACK yang diduga berasal dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster tersebut, selanjutnya ditarik dan hadir ke rekening AMR (Amri) & ABT (Ahmad Bahtiar) masing-masing secara total Rp 9, 8 miliar, ” kata Nawawi, Rabu (25/11/2020).

Selain Edhy dan Suharjito, lima tersangka lain pada kasus ini yaitu staf istimewa Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri dan Andreau Pribadi Misata; pekerja istri Edhy, Ainul Faqih; pemimpin PT ACK Siswadi; serta seorang pihak swasta bernama Amiril Mukminin.