Fri. May 27th, 2022

JAKARTA, KOMPAS. com – Tahun 2020 menjadi tahun-tahun krusial di perjalanan ekspor benih lobster. Pengesahan Peraturan Menteri yang menjadi titik balik ekspor benih lobster tiba diterbitkan pada 2020, meski wacananya sudah digaungkan pada September 2019 silam.

Kesempatan masuk ekspor benih lobster setelah Susi Pudjiastuti lengser ditandai dengan terbitnya Peraturan Menteri Nomor Cetakan 12 tahun 2020 tentang Tata Lobster, Kepiting, dan Rajungan pada Wilayah RI.

Meski sudah dilarang, Menteri KP Edhy Prabowo telah menerbitkan aturan mengenai ekspor benur yang baru. Beleid ekspor benih lobster (benur) diundangkan di Jakarta pada tanggal 5 Mei 2020.

Baca juga:   Saat NU dan Muhammadiyah Kompak Minta Ekspor Benih Lobster Dihentikan

Penerbitan aturan baru sontak dikritisi berbagai pihak, akhirnya diwarnai pro-kontra yang semakin menjadi-jadi. Sikap kontra lupa satunya ditunjukkan oleh Susi Pudjiastuti.

Susi memang mantan menteri yang paling vokal soal isu keberlanjutan dunia. Menurutnya ekspor benih lobster mampu membahayakan lingkungan dan memunahkan plasma nutfah.

“Kalau sekarang ini dibuka lalu ada catu, mohon maaf saya ini benar anti perdagangan yang memakai catu. Saya ini sangat anti sistem ekonomi plasma dan inti plasma. Ini prinsip pribadi, ” cakap Susi dalam diskusi daring, Kamis (23/7/2020).

Era serah-terima jabatan kepada Edhy, Susi percaya penuh bahwa Edhy mampu melanjutkan hal-hal baik yang sudah dijalaninya selama ini. Namun keyakinan itu berbalik menjadi serangan. Susi kerap mengkritik Edhy Prabowo melalaikan Twitter pribadi miliknya.

“Ya prihatin selalu,   cannot do anything . Sedih saja. saya akan suarakan pendapat saya untuk  reminding everyone. Bagaimanapun juga sebagai warga negara, saya punya tanggung berat untuk menyuarakan sesuatu untuk menjadi lebih baik, ” kata Susi pada April 2020.

Rawan kongkalikong

Susi yang menjadi pengusaha pada sektor bahari menyampaikan kesaksiannya, bahwa ekspor benih lobster rawan kongkalikong dan rawan mafia. Di masanya pun, suap-menyuap sudah terjadi. Susi sempat mengaku ditawari uang had Rp 5 triliun namun ditolaknya.

Dia merasakan paham betul, ekspor benur rentan dikomersialisasi pengusaha besar, bukan nelayan asing yang justru disebut-sebut Edhy dalam beberapa kesempatan.